Sebenarnya *terutama di masa-masa hormonal menggila seperti ini* kalau saya mau, banyak hal yang bisa saya komplen. Terlepas dari apa yang saya punya, saya bisa mati-matian mengeluhkan apa yang saya nggak punya. Tapi saya menolak untuk melakukan itu. Selain cuma buang-buang energi dan tidak membantu sama sekali dalam kondisi ini, saya juga belajar untuk selalu melihat diri saya sebagai orang yang beruntung.
Lebih jauh lagi, kita semua adalah orang yang beruntung.
Saya punya teori bahwa kadang-kadang kita nggak bahagia bukan karena kita tidak punya sesuatu untuk dianggap sebagai hal yang membahagiakan. Tapi karena kurangnya kadar penerimaan atau acceptance kita terhadap keadaan kita. Hal ini bahaya, karena bisa bikin kita jadi orang yang nggak bersyukur.
Kita kadang terlalu sibuk memikirkan apa yang kita nggak punya daripada mensyukuri apa yang kita punya. Dan kita kadang terlalu fokus merutuki 'kehilangan' dari hidup kita daripada menikmati berkah yang kita diberikan untuk kitai.
Dan siang ini, terlepas dari kesedihan hati saya melihat si suami yang tampak lebih kusam dari biasanya *tapi tetep ganteng* serta kerinduan saya pada kampung halaman, saya masih tetap tersenyum dan bersyukur. Alhamdulillah saya masih bisa berfikir positif, alhamdulillah saya diberikan banyak kesempatan untuk belajar menjalani hidup jauh dari keluarga, alhamdulillah saya memiliki teman-teman yang meskipun suka nyirikin dengan kehidupan metropolitan mereka tapi masih tetap setia menghibur saya, dan alhamdulillah untuk jutaan nikmat lainnya yang tak akan sanggup saya hitung.
Dan kembali, ..nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Tuesday, December 23, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment