Thursday, August 28, 2008

Catatan yang Tercecer dari Balikpapan

Hari kedua di Balikpapan saya memutuskan untuk makan siang di mall Plaza Balikpapan, gak jauh dari hotel tempat saya menginap. Saya sampai di mall pas jam makan siang, jadi food court mall yang terletak tepat didepan pantai cukup crowded. Menurut informasi seorang teman memang kalau jam makan siang banyak orang kantoran yang makan disana.

Selesai memesan paket bento dari sebuah counter makanan jepang, saya memilih tempat duduk agak ditengah. Selain dari situ saya bisa agak melihat ke laut, saya juga bisa cukup leluasa memperhatikan sekililing saya. Suasana food court siang itu mengingatkan saya pada kehidupan saya sebelum menikah. Kehidupan pada saat bekerja di Jakarta, lebih tepatnya. Makan siang bersama teman kantor sesuai meeting dengan klien (don’t we love our Sudirman-Thamrin clients, girls?) sambil membahas hasil meeting, membicarakan rencana kedepan, atau sekedar membahas kegantengan klien yang baru kami temui, sambil sekali-kali bitching soal situasi kantor yang kadang tidak kondusif.

Pikiran ini membuat saya terpikir untuk kembali ke kantor. Bekerja lagi, mengejar karir seperti dulu. I must admit, saya menyukai dinamika kantor - yang membentuk saya menjadi office bitch. Oh yes, I was quite a bitch. Bukan cuma anak buah yang bisa saya tegor, atasan juga bisa saya omelin. Not to mention anak divisi lain yang suka kena bawelan saya juga. I was an office bitch indeed. Kembali ke kantor juga sempat sangat menggoda ketika seorang teman menawarkan sebuah pekerjaan di Jakarta. Menarik.

Tapi kemudian saya berfikir lagi. Apakah saya siap kembali ke kehidupan maha hectic di ibukota? Apakah saya siap kembali menjadi anak kos dan misuh-misuh sendirian di kosan after a hard day at work? Apakah saya siap kembali berakrab-akrab dengan target dan tanggung jawab kepada atasan? Dan terutama, apakah saya siap jauh dari si Aa?

Hmmm.

Untuk saat ini, rasanya saya harus menjawab tidak. Meskipun saya masih belajar menikmati kehidupan baru saya ini, tapi saya rasa menjadi ibu rumah tangga yang setiap hari bersama suami di tengah hutan jauh lebih baik daripada menjadi wanita karir yang tinggal sendirian di kota metropolitan. Saya takut ketemu berondong ganteng *hehe – BECANDA LHO*.

Selesai makan saya melangkahkan kaki menuju sebuah toko baju brand favorit suami saya dan mencari sesuatu yang bisa saya belikan untuknya. Sebuah t-shirt abu-abu polos saya bawa pulang untuk saya berikan sore nanti ketika suami pulang training. A surprise gift. Baru memikirkan reaksinya saja sudah membuat senyum saya terkembang.

Oh well, rasanya saya ingin menjalani kehidupan ini saja. Karena tiba-tiba saya menyadari bahwa membelikan hadiah kecil untuk suami dan melihat tatapan matanya saat mengucapkan ‘I love you’ rasanya jauh lebih membahagiakan daripada saat berhasil mendapatkan kontrak senilai ratusan juta.