Tuesday, December 23, 2008
Acceptance
Lebih jauh lagi, kita semua adalah orang yang beruntung.
Saya punya teori bahwa kadang-kadang kita nggak bahagia bukan karena kita tidak punya sesuatu untuk dianggap sebagai hal yang membahagiakan. Tapi karena kurangnya kadar penerimaan atau acceptance kita terhadap keadaan kita. Hal ini bahaya, karena bisa bikin kita jadi orang yang nggak bersyukur.
Kita kadang terlalu sibuk memikirkan apa yang kita nggak punya daripada mensyukuri apa yang kita punya. Dan kita kadang terlalu fokus merutuki 'kehilangan' dari hidup kita daripada menikmati berkah yang kita diberikan untuk kitai.
Dan siang ini, terlepas dari kesedihan hati saya melihat si suami yang tampak lebih kusam dari biasanya *tapi tetep ganteng* serta kerinduan saya pada kampung halaman, saya masih tetap tersenyum dan bersyukur. Alhamdulillah saya masih bisa berfikir positif, alhamdulillah saya diberikan banyak kesempatan untuk belajar menjalani hidup jauh dari keluarga, alhamdulillah saya memiliki teman-teman yang meskipun suka nyirikin dengan kehidupan metropolitan mereka tapi masih tetap setia menghibur saya, dan alhamdulillah untuk jutaan nikmat lainnya yang tak akan sanggup saya hitung.
Dan kembali, ..nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Wednesday, October 29, 2008
Not My Life.
I'm not the one who's strolling down the isle with a pair of Manolo.
I'm not the one who's carrying $2000 purse with matching wallet.
I'm not the one who's spending one million for a day spa treatment.
I'm not the one who's driving beautiful black sedan with shinny four rings logo on it.
I'm not the one who went to Prague, Czech, Paris, London, Rome, and Italy last holiday.
I'm not the one living in a grand mansion with indoor and outdoor swimming pool.
I'm not the one who's having breakfast at Starbucks, lunch at The Four Seasons, and dinner at Ritz-Carlton.
Though it might be nice,
But it's not my life.
Because my life is even better.
A whole lot better.
I'm the one who's living my life with the most wonderful man in the world.
...and the first thing that crossed my mind when I opened my eyes and saw him lying next to me was:
"Baby, you don't know how much I adore you".
Thursday, August 28, 2008
Catatan yang Tercecer dari Balikpapan
Hari kedua di Balikpapan saya memutuskan untuk makan siang di mall Plaza Balikpapan, gak jauh dari hotel tempat saya menginap. Saya sampai di mall pas jam makan siang, jadi food court mall yang terletak tepat didepan pantai cukup crowded. Menurut informasi seorang teman memang kalau jam makan siang banyak orang kantoran yang makan disana.
Selesai memesan paket bento dari sebuah counter makanan jepang, saya memilih tempat duduk agak ditengah. Selain dari situ saya bisa agak melihat ke laut, saya juga bisa cukup leluasa memperhatikan sekililing saya. Suasana food court siang itu mengingatkan saya pada kehidupan saya sebelum menikah. Kehidupan pada saat bekerja di Jakarta, lebih tepatnya. Makan siang bersama teman kantor sesuai meeting dengan klien (don’t we love our Sudirman-Thamrin clients, girls?) sambil membahas hasil meeting, membicarakan rencana kedepan, atau sekedar membahas kegantengan klien yang baru kami temui, sambil sekali-kali bitching soal situasi kantor yang kadang tidak kondusif.
Pikiran ini membuat saya terpikir untuk kembali ke kantor. Bekerja lagi, mengejar karir seperti dulu. I must admit, saya menyukai dinamika kantor - yang membentuk saya menjadi office bitch. Oh yes, I was quite a bitch. Bukan cuma anak buah yang bisa saya tegor, atasan juga bisa saya omelin. Not to mention anak divisi lain yang suka kena bawelan saya juga. I was an office bitch indeed. Kembali ke kantor juga sempat sangat menggoda ketika seorang teman menawarkan sebuah pekerjaan di Jakarta. Menarik.
Tapi kemudian saya berfikir lagi. Apakah saya siap kembali ke kehidupan maha hectic di ibukota? Apakah saya siap kembali menjadi anak kos dan misuh-misuh sendirian di kosan after a hard day at work? Apakah saya siap kembali berakrab-akrab dengan target dan tanggung jawab kepada atasan? Dan terutama, apakah saya siap jauh dari si Aa?
Hmmm.
Untuk saat ini, rasanya saya harus menjawab tidak. Meskipun saya masih belajar menikmati kehidupan baru saya ini, tapi saya rasa menjadi ibu rumah tangga yang setiap hari bersama suami di tengah hutan jauh lebih baik daripada menjadi wanita karir yang tinggal sendirian di kota metropolitan. Saya takut ketemu berondong ganteng *hehe – BECANDA LHO*.
Selesai makan saya melangkahkan kaki menuju sebuah toko baju brand favorit suami saya dan mencari sesuatu yang bisa saya belikan untuknya. Sebuah t-shirt abu-abu polos saya bawa pulang untuk saya berikan sore nanti ketika suami pulang training. A surprise gift. Baru memikirkan reaksinya saja sudah membuat senyum saya terkembang.
Oh well, rasanya saya ingin menjalani kehidupan ini saja. Karena tiba-tiba saya menyadari bahwa membelikan hadiah kecil untuk suami dan melihat tatapan matanya saat mengucapkan ‘I love you’ rasanya jauh lebih membahagiakan daripada saat berhasil mendapatkan kontrak senilai ratusan juta.
Thursday, January 3, 2008
Alhamdulillah.
Semoga ini baru permulaan dari sesuatu yang lebih besar, lebih baik. Allahumma amin.
