Semalam saya mendapat sebuah telpon yang buat saya cukup merupakan sebuah kejutan. telpon itu datang dari orang yang saya kira gak bakalan pernah nelpon saya. Bukan, bukan dari SBY yang nawarin saya jabatan Menteri Urusan Kebahagiaan dan Hura-hura *dreamjob* atau Rizky Hanggono yang ngajak saya jadi istri keduanya, tapi dari pacarnya mantan saya. Let's say semenjak mantan saya pacaran sama pacarnya ini, saya jadi agak-agak 'bermasalah' sama mantan saya. Bukan saya yang cari-cari masalah sama mereka, tapi saya 'diseret' masuk dalam masalah mereka. Detailnya, gak perlu saya ceritain. Karena masalahnya juga sebenernya udah aga-agak lama, dan panjang aja kalau harus diceritain dari awal (baca: males ceritanya, hehe).
Anyways, intinya semalam si pacarnya mantan ini minta maaf sama saya karena saya pernah diseret masuk ke dalam masalah mereka. Dan saya memaafkan dia (mereka). Ya well, what can I do selain memaafkan mereka? Meskipun menurut ajaran Taoisme (Tao Ming Tse-isme, red.) kalau maaf berlaku buat apa ada polisi, tapi saling memaafkan adalah hal yang terpuji. Jadi ya udah.
Kami sempet ngobrol dikit. She said what she needed to say, and so did I.
Yah, saya sih lega. Satu masalah kelar. Alhamdulillah. Memang kalau orang sabar mah disayang Tuhan yah *terus langsung takabur, hihi.. becanda lho*..
Monday, November 19, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment