Wednesday, October 31, 2007

Crossroads

Bukan, ini bukan review film Britney Spears yang jaman kapan itu.

Ya ya. Saya sedang berada di persimpangan hidup lagi. Hidup memang selalu menuntut kita untuk memilih. Koreksi. Hidup memang selalu terdiri dari pilihan-pilihan. Ini memang bukan kali pertama saya ada di sebuah persimpangan, dimana saya diharuskan memilih salah satu jalan yang akan saya lalui dalam hidup ini. Dan ini juga bukan kali pertama saya menghadapi persimpangan dengan pilihan yang hampir serupa. Tapi tetap saja rasanya nggak gampang buat memilih. Karena pilihan saya menentukan masa depan saya. akan dibawa kemana hidup saya kedepannya.

Ya ya. Takdir memang sudah dituliskan. Dan bagaimanapun caranya, apapun jalannya, apa yang sudah ditakdirkan pasti terjadi. Hanya saja, tetap, saya percaya bahwa saya harus hati-hati memilih kemana saya akan melangkah. Pilihannya, insyaAllah, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari yang lainnya. Tapi tetap, saya harus memilih. Karena proses selalu lebih penting daripada hasil akhir. Saya percaya, kalau kita menjalani suatu proses dengan sungguh-sungguh, dengan ikhlas dan ridha, dengan sebaik-baiknya, dan bisa belajar banyak selmaa proses itu berjalan, maka apapun hasil akhirnya, kita akan tetap bersyukur.

Baiklah, sebagai banci analisa sejati, izinkan saya untuk menganalisa dulu pilihan-pilihan saya ini. Apa? Saya belum menyebutkan pilihan apa yang ada di depan saya? Maaf, saya lupa, hehe.

Jadi, seperti anda bisa terka, saya sudah fed up sama kantor saya yang sekarang. For some professional reasons and unprofessional reasons. Sebenarnya pilihannya hanya dua: tinggal, atau mengundurkan diri. Sejujurnya saya sih lebih condong ke mengundurkan diri. Tapi masalahnya, saya belum dapat kerjaan baru. Saya bisa saja sih pulang ke Bandung. Tapi berbagai alasan ribet membuat saya malas kembali ke Bandung sebagai pengangguran. Belum lagi sebetulnya saya masih ingin mengadu nasib di Jakarta. Saya juga masih menantikan beberapa berita baik. Akan sangat repot kalau misalnya saya sudah memboyong diri saya termasuk isi kamar kosan saya, yang memang gak seberapa tapi tetep aja banyak, ke Bandung lalu saya harus kembali lagi ke Jakarta. Dan menganggur tapi tetap tinggal di Jakarta is not an option.

Cukup membingungkan memang. Tapi anda jangan ikut bingung. Tetaplah merasa terhibur ketika membaca blog ini. Seenggaknya terhibur setelah membaca postingan ini karena masalah anda (mungkin) gak seribet masalah saya ini.

Ya udah, deh. Nanti saya kabarin lagi jadinya gimana -- doakan dengan kabar baik, itu juga kalau anda masih tertarik dan penasaran mengetahui kelanjutan pilihan saya *grin*.

No comments: