Thursday, September 20, 2007

Cengeng.

How can I not love you? What do I tell my heart? When do I not want you here in my arms? How does one walks away from all of the memories? How do I not miss you when you are gone?How can I not love you when you are gone..

Hari Ini Rasanya Sedih Sekali

You see, I'm not that tough. I'm just wearing this phony strength for these past few years. With that phony smile. And that phony words, "I'm perfectly okay". The moment when I'm totally honest to myself is when I cry and share everything with My Rabb. That is the moment when I feel like myself. Naked. Juat me and my tears. Have nothing to hide.

Robbana aatina miladunka rahmatan wa hayyi' lanaa min amrinaa rosyada..

And I believe Allah will always help me to get through everything. Allah always does.

Amin.

Thursday, September 13, 2007

Ayo Asti Kamu Ga Boleh Cengeng!

Saya senang. Kamu bikin saya semangat nunggu besok. Kamu bikin saya senyum-senyum sendiri lagi. Kamu bikin saya ketawa tiap hari. And I love to laugh with you.

Saya minta kopi, dong. Yang banyak buat dibawa ke Jakarta.

J'espere qu'il n y a pas d'autre coeur. Pour moi et pour toi. Aujurd hui. Toujours.

Jalan-jalan ke angkasa, yiuks.

..karena gak ada yang sempurna di dunia ini kecuali sayangku :)..

Tu me manques. 24/7.

.. and in this crazy life, and through this crazy times it's you, it's you, you make me sing. You're every line, you're every words, you're everything..

I love you, stranger.


These are the simple messages I want to write in your comment box in your Friendster profile. But I just can't, rite? No worries, stranger. It doesn't change the way I feel for you *smile*.

Thursday, September 6, 2007

Saya Bersyukur Maka Saya Ada - continued.

Ada dua hal yang ketinggalan saya tulis kemarin.

Saya bersyukr untuk keluarga saya yang selalu percaya bahwa apapun yang saya lakukan di luar sini adalah sesuatu yang baik. Dan saya akan menjaga kepercayaan itu, insyaAllah.

Juga tentunya saya bersyukur untuk teman-teman saya yang bukan hanya mendukung saya ketika saya benar, tapi mengingatkan saya ketika salah.

Alhamdulillah yang tak terhingga.

Wednesday, September 5, 2007

Saya Bersyukur Maka Saya Ada

Hari ini saya merasa sangat bersyukur. Gak ada special occassion, tapi entah mengapa pagi ini saya terbangun dengan perasaan senang - dan bersyukur.

Bersyukur untuk diri saya yang merasa nyaman dengan keadaan fisik saya. Saya tidak pernah merasa cantik. Ini membuat saya selalu menikmati tampil apa adanya. Kalau lagi pengen gembel, ya gembel. Lagi pengen dandan, ya dandan. Ga pernah ada tuntutan, terutama dari diri sendiri, untuk selalu tampil stunning atau untuk selalu terlihat outstanding.

Bersyukur untuk diri saya yang banyak berfikir. Meskipun kadang-kadang saya tampak tidak 'hadir' dan asyik berkelana dalam pikiran saya sendiri, saya tidak menyesalinya. Karena pikiran saya tidak pernah membuahkan sesuatu yang sia-sia. Kalaupun buat orang lain mungkin gak banyak gunanya, tapi seenggaknya berarti sesuatu buat diri saya sendiri.

Bersyukur untuk keadaan keuangan saya yang pas. Bukan pas-pasan, tapi pas. Membuat saya harus cerdas dalam membagi pengeluaran, dan berhati-hati untuk tidak boros. Jadi kalau suatu saat keadaan keuangan saya berlebih, sata tidak akan boros dan terbiasa spend money untuk hal-hal yang berguna saja.

Bersyukur untuk hal-hal kecil *yang saya senang menyebutnya substantial itinerary*, dan hal-hal besar yang Allah kasih buat saya. Sangat bersyukur.

Dan saya bersyukur untuk apa yang sedang saya rasakan saat ini, apapun yang menunggu di depan saya. Tapi saya bersyukur untuk saat ini, untuk perasaan ini.

Alhamdulillah.

Beauty, Behaviour, and of course Brain

Saya baru aja buka profile seseorang di friendster. Bukan seseorang yang istimewa di hati, bukan pula seseorang yang pernah istimewa di hati. Tapi buka profilenya mengingatkan saya ke jaman-jaman kuliah dulu, dan gimana awalnya saya mulai menyadari bahwa saya bukan hanya butuh cowo yang punya beauty dan behaviour, tapi juga yang punya brain *macam miss universe*.

Namanya sebut aja AkNu. Senior saya jaman kuliah dulu. Dia angkatan 99. Saya gak kenal deket sama dia. Gak punya kesempatan buat kenal deket sama dia, lebih tepatnya. Karena saya dan dia eksis di dunia yang berbeda, literally. Saya bersama anak-anak yang hobi nyampah for fun or for the sake of the so-called 'eksistensi', dan dia bersama kelompok yang hobi nyampah karena mereka memang punya tujuan konkret dibalik itu: for the sake of their future *setidaknya itulah yang saya rasakan pada saat itu*.

Niweis, AkNu ini pinter. Semua orang tau dia pinter. Meskipun buat sebagian orang image AkNu adalah anak pinter yang kaku, pendiam, dan punya aura akademisi yang sangat kental *whatever it means -- grin*. Tapi somehow, saya seneng merhatiin si AkNu ini. Saya pernah punya satu kesempatan ngobrol banyak sama dia, pas jaman-jaman saya jadi panitia prakdip. Ternyata dia gak se-kaku itu. Menyenangkan malah, meskipun saya masih kagok ngobrol sama dia. Karena ternyata dia memang beneran pinter *ga pd mode: ON*. Waktu itu saya jadi tim materi yang nyiapain - well - materi yang dibutuhin buat prakdip angkatannya AkNu. And the way he sees things is simply stunning. Semenjak itu, semasa kuliah, saya jadi terobsesi pengen punya pacar yang kaya AkNu. Sekali lagi, bukan terobsesi punya pacar AkNu *karena itu tidak mungkin terjadi, not in a zillion way*, tapi punya pacar yang kaya AkNu. Pinter, cerdas.

Dan lama-lama saya menyadari sesuatu. Bahwa I always fancy smart guy. Temen saya bahkan sempet bilang: "Ti, loe kayanya turn-on sama cowo-cowo pinter ya?". Gyahahahahha. Bisa jadi.

Tuesday, September 4, 2007

Sederhana

Saya cuma ingin jatuh cinta dengan sederhana. Itu saja.