Suatu hari Jumat saya chat dengan seorang mantan calon adik ipar. Ngobrol ngalor-ngidul tentang ini dan itu. Dan pada akhir obrolan dia bilang,
“Terima kasih buat ngobrol-ngobrolnya, kakak-kuw”
If she said those 10 months ago, it’d feel different. Tapi Jumat itu yang saya rasakan cuma senang karena dia menganggap saya sebagai orang yang lebih dewasa dan bisa diajak berbagi.
Lalu dia bilang lagi,
“Coba kita deketnya dari dulu-dulu, ya”
Saya mengintepretasikan ‘dari dulu-dulu’ sebagai ‘dari jaman saya masih pacaran sama abangnya’.
Heum. Saya tersenyum membacanya. Bukan saya yang nggak mau deket dari dulu-dulu. Tapi keadaan yang memaksa saya untuk sulit dekat pada saat itu (tanpa perlu menunjuk manusia yang bertanggung jawab atas ‘keadaan’ itu). See, enak kan bisa deket sama saya. I bet she really hopes that I’m really her future-sister-in-law. Go blame your brother *grin*.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment