Sunday, August 5, 2007

Ini Bukan Relapse

Yakinkah ku berdiri
Di hampa tanpa tepi
Bolehkan aku mendengarmu

Waktu itu kita masih berteman. Sambil makan the famous orgasmic chocolate lava, kamu perdengarkan lagu ini sama saya. Kamu bilang, “Liriknya bagus seperti puisi”.

Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku merindukanmu

Nggak lama saya baca kalau kamu nggak suka puisi. Padahal dulu saya pernah bikin puisi buat kamu, dan kamu nggak keberatan menaruhnya di halaman depan organizer kamu (yang saya kasih buat kamu sebagai hadiah valentine tahun pertama kita pacaran). Bahkan sampai beberapa bulan setelah kamu bukan lagi pacar sayapun, kamu masih menaruhnya di tempat yang sama. Tapi setelah saya baca kalau kamu ternyata nggak suka puisi, saya gak tau apa puisi itu masih ada atau nggak. Dan saya gak tau apa kamu masih suka lagu ini atau nggak. Saya juga gak tau apa kita masih berteman atau nggak.

Dalam hidupku, kesendirianku

Lalu kita berhenti berteman. Pura-pura nggak kenal. Saya tahu kenapa. Karena pacar kamu begitu cemburu pada saya. Tapi saya nggak ngerti kenapa pacar kamu harus sebegitu cemburunya pada saya. Dan itu bikin saya begitu benci sama kamu.

Teringat ku teringat
Pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Ku lakukan sepenuh hati

Sekarang saya udah ga benci lagi sama kamu. Kadang-kadang saya kangen sama keakraban kita. Jangan salah, saya bukannya pengen jadi pacar kamu lagi. Tapi kita pernah amat mengenal satu sama lain. Rasanya aneh aja gak bertegur sapa dengan orang yang pernah sangat dekat dengan hidup saya. Well, saya rasa ini buat kebaikan kita (semua), ya?

Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika kaulah sandaran hati

Saya nggak tau kamu masih suka lagu ini atau nggak. Saya juga gak tau apakah kamu sungguh-sungguh gak suka puisi, atau waktu itu kamu cuma pura-pura nggak suka. Tapi saya tahu satu hal, meskipun sekarang kita nggak saling bicara lagi, kamu nggak bisa nggak saya anggap sebagai teman saya.

No comments: