They said a bad past experience would make us stronger. Or in more sophisticated sentences: what doesn't kill you will definitely makes you stronger. But what I have in mind right now is, bad past experience makes me scared easily. I'm not saying I'm becoming a coward. But sometimes the pain just remind me on how bad it felt to fall from heights. Maybe I should put it this way: what doesn't kill you will definitely makes you stronger, but not necessarilly make you braver.
Can't I just wake up in the morning, feeling happy, and don't have to worry about this kind of thing anymore?
Tuesday, August 28, 2007
Friday, August 24, 2007
Man.
Any man can just simply be a man.
As man as they want it to be.
I mean, hey, it's men I'm talking about.
They're just, well, men.
Oh, man..
As man as they want it to be.
I mean, hey, it's men I'm talking about.
They're just, well, men.
Oh, man..
Monday, August 13, 2007
Simple Together
You've been my golden best friend. Now with post-demise at hand can't go to you for consolation. Cause we're off limits during this transition. This grief overwhelms me. It burns in my stomach and I can't stop bumping into things. I thought we'd be simple together. I thought we'd be happy together. Thought we'd be limitless together. I thought we'd be precious together but I was sadly mistaken. You've been my soulmate and then some. I remembered you the moment I met you. With you I knew god's face was handsome. With you I saw fun and expansion.This loss is numbing me. It pierces my chest and I can't stop dropping everything. I thought we'd be sexy together. Thought we'd be evolving together. I thought we'd have children together. I thought we'd be family together but I was sadly mistaken. If I had a bill for all the philosophies I shared. If I had a penny for all the possibilities I presented. If I had a dime for every hand thrown up in the air, my wealth would render this no less severe. I thought we'd be genius together. I thought we'd be healing together. I thought we'd be growing together. Thought we'd be adventurous together but I was sadly mistaken. Thought we'd be exploring together. Thought we'd be inspired together. I thought we'd be flying together. Thought we'd be on fire together but I was sadly mistaken.
Simple Together. Alanis Morissette.
I'm in the mood of drowning myself in this strange feeling I feel right now, Stranger. But I'm sure we (I) will pass this phase and be perfectly fine.
Simple Together. Alanis Morissette.
I'm in the mood of drowning myself in this strange feeling I feel right now, Stranger. But I'm sure we (I) will pass this phase and be perfectly fine.
Sunday, August 12, 2007
Cogito Ergo Sum
Sometimes it's better to keep everything inside and think about it over and over again until you (think) you've through with it. But sometimes to disclose the things seems like a good option. You can make it complicated though it could've been simpler. Or make it easy while it actually is pretty hard to bear. It's just a matter of choice. Nothing is perfectly right, and nothing is absolutely wrong.
And I'll live with it, maybe somehow I'll be over it. This is just life, sit back and enjoy.
And I'll live with it, maybe somehow I'll be over it. This is just life, sit back and enjoy.
Thursday, August 9, 2007
M e n g e r t i ( ? )
What is it with me. Am I some kind of magnet for insensitive jerks or what?
Memang, memang yang Maha Menggenggam Hati Manusia itu Allah. Dan cuma Allah yang bisa mengontrol jalannya hati kita. Dan saya bukan mau menyalahkan takdir. Sama sekali nggak.
Saya cuma nggak paham. Seperti saya tanyakan pada seorang teman: "Kalau belum berani berkomitmen, kenapa berani-beraninya menawarkan harapan?". Terlebih lagi, kalau memang belum yakin sama hati dan pilihan, kenapa berani-beraninya bikin move yang bisa mengganggu stabilitas hati objek penderita? Saya bukan nyalahin perubahan sikap. Saya cuma kesel aja, kenapa nggak dipikir baik-baik sebelum melakukan apapun itu. This is irritating.
Dan lagi-lagi - ujung-ujungnya - kita (saya) harus mengerti. Sekali-sekali, ada nggak yang mau coba ngertiin saya?
Memang, memang yang Maha Menggenggam Hati Manusia itu Allah. Dan cuma Allah yang bisa mengontrol jalannya hati kita. Dan saya bukan mau menyalahkan takdir. Sama sekali nggak.
Saya cuma nggak paham. Seperti saya tanyakan pada seorang teman: "Kalau belum berani berkomitmen, kenapa berani-beraninya menawarkan harapan?". Terlebih lagi, kalau memang belum yakin sama hati dan pilihan, kenapa berani-beraninya bikin move yang bisa mengganggu stabilitas hati objek penderita? Saya bukan nyalahin perubahan sikap. Saya cuma kesel aja, kenapa nggak dipikir baik-baik sebelum melakukan apapun itu. This is irritating.
Dan lagi-lagi - ujung-ujungnya - kita (saya) harus mengerti. Sekali-sekali, ada nggak yang mau coba ngertiin saya?
Sunday, August 5, 2007
Twenty Four Hours Continues
Hear nothing from you for 24 hours. Are you okay? Are you that busy? Or am I just not that necessary for you?
I’m not curious. I’m just wondering.
Anyways, itu saya tulis beberapa minggu lalu. Baru 24 jam ga ada kabar aja udah kalang kabut. Gimana dengan dua hari, tiga hari, seminggu?
Saya sampai pada satu kesimpulan, I am not that necessary for him. And I’m so not gonna do this to myself again, not anymore.
I’m not curious. I’m just wondering.
Anyways, itu saya tulis beberapa minggu lalu. Baru 24 jam ga ada kabar aja udah kalang kabut. Gimana dengan dua hari, tiga hari, seminggu?
Saya sampai pada satu kesimpulan, I am not that necessary for him. And I’m so not gonna do this to myself again, not anymore.
Thank You.
A good friend is someone who knows what to say when things get ugly.
Dan seorang teman yang sangat baik hati membuat hati saya senang ketika dia bilang,
“It’s gonna be his loss if he let you go”.
Thank you. It really means a lot to me.
Sungguh beruntung pacarmu itu. You really know how to make a girl feel good about herself.
Dan seorang teman yang sangat baik hati membuat hati saya senang ketika dia bilang,
“It’s gonna be his loss if he let you go”.
Thank you. It really means a lot to me.
Sungguh beruntung pacarmu itu. You really know how to make a girl feel good about herself.
A Little Chat on Friday Afternoon
Suatu hari Jumat saya chat dengan seorang mantan calon adik ipar. Ngobrol ngalor-ngidul tentang ini dan itu. Dan pada akhir obrolan dia bilang,
“Terima kasih buat ngobrol-ngobrolnya, kakak-kuw”
If she said those 10 months ago, it’d feel different. Tapi Jumat itu yang saya rasakan cuma senang karena dia menganggap saya sebagai orang yang lebih dewasa dan bisa diajak berbagi.
Lalu dia bilang lagi,
“Coba kita deketnya dari dulu-dulu, ya”
Saya mengintepretasikan ‘dari dulu-dulu’ sebagai ‘dari jaman saya masih pacaran sama abangnya’.
Heum. Saya tersenyum membacanya. Bukan saya yang nggak mau deket dari dulu-dulu. Tapi keadaan yang memaksa saya untuk sulit dekat pada saat itu (tanpa perlu menunjuk manusia yang bertanggung jawab atas ‘keadaan’ itu). See, enak kan bisa deket sama saya. I bet she really hopes that I’m really her future-sister-in-law. Go blame your brother *grin*.
“Terima kasih buat ngobrol-ngobrolnya, kakak-kuw”
If she said those 10 months ago, it’d feel different. Tapi Jumat itu yang saya rasakan cuma senang karena dia menganggap saya sebagai orang yang lebih dewasa dan bisa diajak berbagi.
Lalu dia bilang lagi,
“Coba kita deketnya dari dulu-dulu, ya”
Saya mengintepretasikan ‘dari dulu-dulu’ sebagai ‘dari jaman saya masih pacaran sama abangnya’.
Heum. Saya tersenyum membacanya. Bukan saya yang nggak mau deket dari dulu-dulu. Tapi keadaan yang memaksa saya untuk sulit dekat pada saat itu (tanpa perlu menunjuk manusia yang bertanggung jawab atas ‘keadaan’ itu). See, enak kan bisa deket sama saya. I bet she really hopes that I’m really her future-sister-in-law. Go blame your brother *grin*.
Ini Bukan Relapse
Yakinkah ku berdiri
Di hampa tanpa tepi
Bolehkan aku mendengarmu
Waktu itu kita masih berteman. Sambil makan the famous orgasmic chocolate lava, kamu perdengarkan lagu ini sama saya. Kamu bilang, “Liriknya bagus seperti puisi”.
Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku merindukanmu
Nggak lama saya baca kalau kamu nggak suka puisi. Padahal dulu saya pernah bikin puisi buat kamu, dan kamu nggak keberatan menaruhnya di halaman depan organizer kamu (yang saya kasih buat kamu sebagai hadiah valentine tahun pertama kita pacaran). Bahkan sampai beberapa bulan setelah kamu bukan lagi pacar sayapun, kamu masih menaruhnya di tempat yang sama. Tapi setelah saya baca kalau kamu ternyata nggak suka puisi, saya gak tau apa puisi itu masih ada atau nggak. Dan saya gak tau apa kamu masih suka lagu ini atau nggak. Saya juga gak tau apa kita masih berteman atau nggak.
Dalam hidupku, kesendirianku
Lalu kita berhenti berteman. Pura-pura nggak kenal. Saya tahu kenapa. Karena pacar kamu begitu cemburu pada saya. Tapi saya nggak ngerti kenapa pacar kamu harus sebegitu cemburunya pada saya. Dan itu bikin saya begitu benci sama kamu.
Teringat ku teringat
Pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Ku lakukan sepenuh hati
Sekarang saya udah ga benci lagi sama kamu. Kadang-kadang saya kangen sama keakraban kita. Jangan salah, saya bukannya pengen jadi pacar kamu lagi. Tapi kita pernah amat mengenal satu sama lain. Rasanya aneh aja gak bertegur sapa dengan orang yang pernah sangat dekat dengan hidup saya. Well, saya rasa ini buat kebaikan kita (semua), ya?
Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika kaulah sandaran hati
Saya nggak tau kamu masih suka lagu ini atau nggak. Saya juga gak tau apakah kamu sungguh-sungguh gak suka puisi, atau waktu itu kamu cuma pura-pura nggak suka. Tapi saya tahu satu hal, meskipun sekarang kita nggak saling bicara lagi, kamu nggak bisa nggak saya anggap sebagai teman saya.
Di hampa tanpa tepi
Bolehkan aku mendengarmu
Waktu itu kita masih berteman. Sambil makan the famous orgasmic chocolate lava, kamu perdengarkan lagu ini sama saya. Kamu bilang, “Liriknya bagus seperti puisi”.
Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku merindukanmu
Nggak lama saya baca kalau kamu nggak suka puisi. Padahal dulu saya pernah bikin puisi buat kamu, dan kamu nggak keberatan menaruhnya di halaman depan organizer kamu (yang saya kasih buat kamu sebagai hadiah valentine tahun pertama kita pacaran). Bahkan sampai beberapa bulan setelah kamu bukan lagi pacar sayapun, kamu masih menaruhnya di tempat yang sama. Tapi setelah saya baca kalau kamu ternyata nggak suka puisi, saya gak tau apa puisi itu masih ada atau nggak. Dan saya gak tau apa kamu masih suka lagu ini atau nggak. Saya juga gak tau apa kita masih berteman atau nggak.
Dalam hidupku, kesendirianku
Lalu kita berhenti berteman. Pura-pura nggak kenal. Saya tahu kenapa. Karena pacar kamu begitu cemburu pada saya. Tapi saya nggak ngerti kenapa pacar kamu harus sebegitu cemburunya pada saya. Dan itu bikin saya begitu benci sama kamu.
Teringat ku teringat
Pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Ku lakukan sepenuh hati
Sekarang saya udah ga benci lagi sama kamu. Kadang-kadang saya kangen sama keakraban kita. Jangan salah, saya bukannya pengen jadi pacar kamu lagi. Tapi kita pernah amat mengenal satu sama lain. Rasanya aneh aja gak bertegur sapa dengan orang yang pernah sangat dekat dengan hidup saya. Well, saya rasa ini buat kebaikan kita (semua), ya?
Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika kaulah sandaran hati
Saya nggak tau kamu masih suka lagu ini atau nggak. Saya juga gak tau apakah kamu sungguh-sungguh gak suka puisi, atau waktu itu kamu cuma pura-pura nggak suka. Tapi saya tahu satu hal, meskipun sekarang kita nggak saling bicara lagi, kamu nggak bisa nggak saya anggap sebagai teman saya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
