(In randomize order, the subject 'he' may vary. All in past tense)
- A motorcycle ride in the afternoon, with my arms around him.
- The way he played hiss bass to impress me, and pretend that he didn't know that I was watching.
- One afternoon after school when he asked me, "Saya boleh telpon kamu?", with -oh- that million dollar smile.
- When he insisted to come to help me with a minor technical computer thing, while he actually can just told me what to do by phone.
- When he looked at me like I'm the pretiest girl in the room.
- When he looked at me like I mean the world to him.
- The way he asked me to the prom.
- The way he kissed me on the cheek after the prom.
- The way he looked at me and tried to say 'hi' from behind the car.
- The way he looked at me after a few laps of running at Sabuga.
- When he asked, "Saya boleh cium kamu nggak?"
- When he insisted to kiss me.
- When he put his head on my shoulder and cried silently. And then I ran my fingers through his hair and said, "Sabar, ya".
- The way he looked at me when he said, "You're the one I need".
- The way they held me in their arms.
- The truth in their eyes.
- The way he kissed me when I cried.
- When he said, "Kamu nikah sama saya, ya. Kamu harus mau jadi istri saya".
After all, I'm just missing the feeling of being special.
Friday, July 27, 2007
Thursday, July 26, 2007
Jealousy.
Saya cemburu pada sebuah masa lalu yang nggak saya kenal. Betapa seorang perempuan pernah begitu istimewa buat dia. Pernah bikin dia jatuh cinta, dan bikin dia patah hati.
Saya nggak ngerti kenapa saya harus cemburu. Saya bahkan belum berani bilang kalau saya jatuh cinta sama dia.
Mungkin saya cemburu bukan karena hati saya sudah terlanjur memilih. Bukan juga karena saya sangat takut kehilangan.
Saya cuma cemburu karena sudah lama saya tidak merasa diistimewakan oleh seseorang yang istimewa buat saya. Kenapa rasanya jatuh cinta jadi satu hal yang sangat sulit dan sangat menakutkan ya?
Darn. I guess I'm in one of those low moments of my life right now.
Saya nggak ngerti kenapa saya harus cemburu. Saya bahkan belum berani bilang kalau saya jatuh cinta sama dia.
Mungkin saya cemburu bukan karena hati saya sudah terlanjur memilih. Bukan juga karena saya sangat takut kehilangan.
Saya cuma cemburu karena sudah lama saya tidak merasa diistimewakan oleh seseorang yang istimewa buat saya. Kenapa rasanya jatuh cinta jadi satu hal yang sangat sulit dan sangat menakutkan ya?
Darn. I guess I'm in one of those low moments of my life right now.
The Thing that Makes Me Feel Sexy
I feel sexy today because I wear my new pair of VNC. Meskipun belum gajian harus tetap senang. And I feel happy because I look really good in those shoes.
Lupakan financial platform yang berbunyi: sepatu seharga 200ribu itu ga murah (untuk sementara).
Lupakan financial platform yang berbunyi: sepatu seharga 200ribu itu ga murah (untuk sementara).
Wednesday, July 25, 2007
Sibuk: The Magic Word.
Kalau selama ini saya mengenal 'please' sebagai the magic word yang bisa mengabulkan hampir semua keinginan kita, baru-baru ini saya menyadari kalau ada satu lagi kata yang unsur magisnya tak kalah kuat dengan kata 'please'. SIBUK.
Lima huruf dalam bahasa Indonesia. Sederhana dan sangat familiar. Tapi sangat ampuh untuk mengusir gangguan yang tidak diinginkan dalam hidup kita. Seenggaknya untuk sementara.
Dan saya merasa sangat berkuasa ketika saya berhasil mengucapkan kalimat ini dengan mantap: "Maaf, saya sedang sibuk".
Tapi saya juga gak boleh lupa untuk berhati-hati ketika mengucapkan kata 'sibuk'. Karena orang lain bisa jadi gak enak ati kalau cara ngucapinnya ga bener.
Sebenernya saya mau nulis apa sih? Huhuh. Maklum lagi agak sibuk, nih. Jadi gak konsen.
Dapet salam dari sibuk.
Lima huruf dalam bahasa Indonesia. Sederhana dan sangat familiar. Tapi sangat ampuh untuk mengusir gangguan yang tidak diinginkan dalam hidup kita. Seenggaknya untuk sementara.
Dan saya merasa sangat berkuasa ketika saya berhasil mengucapkan kalimat ini dengan mantap: "Maaf, saya sedang sibuk".
Tapi saya juga gak boleh lupa untuk berhati-hati ketika mengucapkan kata 'sibuk'. Karena orang lain bisa jadi gak enak ati kalau cara ngucapinnya ga bener.
Sebenernya saya mau nulis apa sih? Huhuh. Maklum lagi agak sibuk, nih. Jadi gak konsen.
Dapet salam dari sibuk.
Jadi...?
...
Adakah ku salah duga menilai sikapmu yang indah padaku?
Mungkin saja aku yang salah mengerti
Mungkin hanya aku yang banyak berharap
Namun sungguh tak ada cinta yang lain
Dengarlah inginku ini..
Mungkin saja aku yang salah mengerti
Mungkin hanya ku tak sabar menanti
Tapi pasti tak ada cinta yang lain
Dengarkan pintaku ini,
..jadi gimana?
with all due respect to yovie widianto
Adakah ku salah duga menilai sikapmu yang indah padaku?
Mungkin saja aku yang salah mengerti
Mungkin hanya aku yang banyak berharap
Namun sungguh tak ada cinta yang lain
Dengarlah inginku ini..
Mungkin saja aku yang salah mengerti
Mungkin hanya ku tak sabar menanti
Tapi pasti tak ada cinta yang lain
Dengarkan pintaku ini,
..jadi gimana?
with all due respect to yovie widianto
Catatan Akhir Bulan
Kere.
Ketika tanggal 25 orang mulai menikmati hasil keringat mereka selama sebulan kebelakang, saya justru harus makin hati-hati dengan pengeluaran saya.
Dan hanya bisa harap-harap cemas. Apakah besok matahari akan bersinar lebih cerah dan angin akan berhembus lebih sepoi-sepoi? Atau baru akan ada kehidupan lagi setelah tanggal satu?
Hanya Tuhan yang tau.
Ketika tanggal 25 orang mulai menikmati hasil keringat mereka selama sebulan kebelakang, saya justru harus makin hati-hati dengan pengeluaran saya.
Dan hanya bisa harap-harap cemas. Apakah besok matahari akan bersinar lebih cerah dan angin akan berhembus lebih sepoi-sepoi? Atau baru akan ada kehidupan lagi setelah tanggal satu?
Hanya Tuhan yang tau.
Rollercoaster of Feelings
Saya kenal laki-laki ini beberapa bulan lalu. Dikenalkan oleh seorang teman dekat. Tentu dikenalkan dalam rangka untuk dijodohkan. Sebagai catatan, saya selalu pesimis dengan urusan comblang-mencomblangi. Bukan apatis, tapi saya cuma berfikir bahwa urusan perasaan itu gak bisa diatur-atur. Apalagi buat saya yang seorang chemistry believer. Perjodohan itu hanya akan sukses kalau dari awal bertemu sudah ada chemistry.
Dan dalam perjodohan kali ini, seperti biasa, dari awal saya sudah berfikir "Okay, this is gonna be another lame matchmaking". Tapi laki-laki ini somehow berhasil mematahkan pemikiran saya itu. It's been fun.
For quite a while.
Setelah berjalan beberapa saat, dengan perhatian yang lumayan overwhelming dari si lelaki ini, tiba-tiba semuanya jadi datar lagi. Ga sms-an, ga telponan. Sekalinya telpon dia kedengeran kurang bersemangat. Kata teman saya, dia sibuk. Ya, dia memang lagi sangat-sangat-sangat sibuk. I am very aware of that. Tapi rasanya aneh aja. Ada yang lain. And somehow I feel this familiar feeling inside my heart. The feeling of having the hope sliping away.
Did I made the wrong move? Am I being too pushy? Did he met someone else? Or am I just being over analyse?
Jujur, saya cape. Saya cuma pengen merasa istimewa. Istimewa, dan bukan sekedar prospective. Waktu beberapa hari lalu teman baik saya bilang bahwa hal-hal seperti ini bikin self-esteem menurun, saya berusaha menyangkal. Tapi memang hal itu undeniable.
Saya sempat merasa cukup lega ketika beberapa hari lalu si lelaki menelpon saya, meskipun untuk satu urusan yang 'dia banget'. Dan ketika kemarin dia menyapa saya lewat Y!M, meskipun saya keburu sign-off. But that was then. Hari ini, saya nggak selega itu.
Dibalik kelihaian saya menyembunyikan emosi, saya cuma perempuan biasa. Dengan perasaan-perasaan yang biasa dirasakan perempuan biasa lainnya.
Saya ingin menulis semua yang saya rasakan saat ini. Tapi lalu semuanya ternyata terangkum cukup dalam satu kata saja: bingung.
Dan dalam perjodohan kali ini, seperti biasa, dari awal saya sudah berfikir "Okay, this is gonna be another lame matchmaking". Tapi laki-laki ini somehow berhasil mematahkan pemikiran saya itu. It's been fun.
For quite a while.
Setelah berjalan beberapa saat, dengan perhatian yang lumayan overwhelming dari si lelaki ini, tiba-tiba semuanya jadi datar lagi. Ga sms-an, ga telponan. Sekalinya telpon dia kedengeran kurang bersemangat. Kata teman saya, dia sibuk. Ya, dia memang lagi sangat-sangat-sangat sibuk. I am very aware of that. Tapi rasanya aneh aja. Ada yang lain. And somehow I feel this familiar feeling inside my heart. The feeling of having the hope sliping away.
Did I made the wrong move? Am I being too pushy? Did he met someone else? Or am I just being over analyse?
Jujur, saya cape. Saya cuma pengen merasa istimewa. Istimewa, dan bukan sekedar prospective. Waktu beberapa hari lalu teman baik saya bilang bahwa hal-hal seperti ini bikin self-esteem menurun, saya berusaha menyangkal. Tapi memang hal itu undeniable.
Saya sempat merasa cukup lega ketika beberapa hari lalu si lelaki menelpon saya, meskipun untuk satu urusan yang 'dia banget'. Dan ketika kemarin dia menyapa saya lewat Y!M, meskipun saya keburu sign-off. But that was then. Hari ini, saya nggak selega itu.
Dibalik kelihaian saya menyembunyikan emosi, saya cuma perempuan biasa. Dengan perasaan-perasaan yang biasa dirasakan perempuan biasa lainnya.
Saya ingin menulis semua yang saya rasakan saat ini. Tapi lalu semuanya ternyata terangkum cukup dalam satu kata saja: bingung.
Subscribe to:
Posts (Atom)
