Friday, December 21, 2007

..all my life.

Even before I ask him about the reasons of his decision, he already said, "From any other girl I've been with, I have the most laughter with you. And I want to have it for the rest of my life".

And again, he left me speechless.

I love you.

Let's do this together. Bismillahirrahmanirrahiim :)..

Monday, December 17, 2007

Things I Could Really Use Right Now

A pack of Dunhil Menthol.

Sushi, lots of sushis.

A slice of triple chocolate cake.

Good movies.

Rain and trees.

A cup of hazelnut hot chocolate.

Laughter with friends.

Bear hug.

Monday, November 19, 2007

Saya Juga Ingin, Lho Ngomong-ngomong.. (Blame the Hormones Eps. 1)

Setiap saya main-main ke profile Friendster teman-teman saya yang berstatus In a relationship ada perasaan "I envy you" yang terbersit di dalam hati saya. Bukan jealous dengan status mereka *status mah bisa dibikin*, tapi jealous dengan isi comment dan testimonial box mereka. Pesan dari orang tersayang. Dan menulis pesan di profile orang tersayang.

Mungkin ini perasaan yang konyol, atau bodoh. Tapi memang rasanya nyebelin lho gak bisa nulis apa yang pengen kita tulis. Apalagi buat saya yang senang mengungkapkan perasaan lewat tulisan. Coba bayangkan gimana rasanya saat kamu ingin dunia tahu kalau kamu sangat sangat sayang sama seseorang tapi kamu nggak bisa melakukannya? Kalau belum kebayang, silahkan dibayangkan dulu. Saya beri anda waktu untuk membayangkan.

...

Sudah jangan lama-lama membayangkannya.

Anyways.. Saat ini, entah karena saya lagi PMS atau apalah, perasaan itu tiba-tiba muncul lagi. Cuma pengen nulis "Hai darl.." aja nggak bisa. Argh. Ah udah ah.

Kasian deh, gue.

PS. Yes, blame the hormones.

Pacar Mantan

Semalam saya mendapat sebuah telpon yang buat saya cukup merupakan sebuah kejutan. telpon itu datang dari orang yang saya kira gak bakalan pernah nelpon saya. Bukan, bukan dari SBY yang nawarin saya jabatan Menteri Urusan Kebahagiaan dan Hura-hura *dreamjob* atau Rizky Hanggono yang ngajak saya jadi istri keduanya, tapi dari pacarnya mantan saya. Let's say semenjak mantan saya pacaran sama pacarnya ini, saya jadi agak-agak 'bermasalah' sama mantan saya. Bukan saya yang cari-cari masalah sama mereka, tapi saya 'diseret' masuk dalam masalah mereka. Detailnya, gak perlu saya ceritain. Karena masalahnya juga sebenernya udah aga-agak lama, dan panjang aja kalau harus diceritain dari awal (baca: males ceritanya, hehe).

Anyways, intinya semalam si pacarnya mantan ini minta maaf sama saya karena saya pernah diseret masuk ke dalam masalah mereka. Dan saya memaafkan dia (mereka). Ya well, what can I do selain memaafkan mereka? Meskipun menurut ajaran Taoisme (Tao Ming Tse-isme, red.) kalau maaf berlaku buat apa ada polisi, tapi saling memaafkan adalah hal yang terpuji. Jadi ya udah.

Kami sempet ngobrol dikit. She said what she needed to say, and so did I.

Yah, saya sih lega. Satu masalah kelar. Alhamdulillah. Memang kalau orang sabar mah disayang Tuhan yah *terus langsung takabur, hihi.. becanda lho*..

Tuesday, November 13, 2007

Blue

Diluar hujan. And all the sudden I feel so blue.

Maybe it's because the weather. Or just a PMS. Or maybe it's because you're not around.

.. or perhaps it's because the stupid thing I just did.

Wednesday, October 31, 2007

Crossroads

Bukan, ini bukan review film Britney Spears yang jaman kapan itu.

Ya ya. Saya sedang berada di persimpangan hidup lagi. Hidup memang selalu menuntut kita untuk memilih. Koreksi. Hidup memang selalu terdiri dari pilihan-pilihan. Ini memang bukan kali pertama saya ada di sebuah persimpangan, dimana saya diharuskan memilih salah satu jalan yang akan saya lalui dalam hidup ini. Dan ini juga bukan kali pertama saya menghadapi persimpangan dengan pilihan yang hampir serupa. Tapi tetap saja rasanya nggak gampang buat memilih. Karena pilihan saya menentukan masa depan saya. akan dibawa kemana hidup saya kedepannya.

Ya ya. Takdir memang sudah dituliskan. Dan bagaimanapun caranya, apapun jalannya, apa yang sudah ditakdirkan pasti terjadi. Hanya saja, tetap, saya percaya bahwa saya harus hati-hati memilih kemana saya akan melangkah. Pilihannya, insyaAllah, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari yang lainnya. Tapi tetap, saya harus memilih. Karena proses selalu lebih penting daripada hasil akhir. Saya percaya, kalau kita menjalani suatu proses dengan sungguh-sungguh, dengan ikhlas dan ridha, dengan sebaik-baiknya, dan bisa belajar banyak selmaa proses itu berjalan, maka apapun hasil akhirnya, kita akan tetap bersyukur.

Baiklah, sebagai banci analisa sejati, izinkan saya untuk menganalisa dulu pilihan-pilihan saya ini. Apa? Saya belum menyebutkan pilihan apa yang ada di depan saya? Maaf, saya lupa, hehe.

Jadi, seperti anda bisa terka, saya sudah fed up sama kantor saya yang sekarang. For some professional reasons and unprofessional reasons. Sebenarnya pilihannya hanya dua: tinggal, atau mengundurkan diri. Sejujurnya saya sih lebih condong ke mengundurkan diri. Tapi masalahnya, saya belum dapat kerjaan baru. Saya bisa saja sih pulang ke Bandung. Tapi berbagai alasan ribet membuat saya malas kembali ke Bandung sebagai pengangguran. Belum lagi sebetulnya saya masih ingin mengadu nasib di Jakarta. Saya juga masih menantikan beberapa berita baik. Akan sangat repot kalau misalnya saya sudah memboyong diri saya termasuk isi kamar kosan saya, yang memang gak seberapa tapi tetep aja banyak, ke Bandung lalu saya harus kembali lagi ke Jakarta. Dan menganggur tapi tetap tinggal di Jakarta is not an option.

Cukup membingungkan memang. Tapi anda jangan ikut bingung. Tetaplah merasa terhibur ketika membaca blog ini. Seenggaknya terhibur setelah membaca postingan ini karena masalah anda (mungkin) gak seribet masalah saya ini.

Ya udah, deh. Nanti saya kabarin lagi jadinya gimana -- doakan dengan kabar baik, itu juga kalau anda masih tertarik dan penasaran mengetahui kelanjutan pilihan saya *grin*.

Monday, October 22, 2007

Super.

“… jarang laki-laki yang punya tipe perempuan kaya kamu. Kamu perempuan super. Cuma laki-laki super yang cari perempuan kaya kamu. Cuma laki-laki super yang bisa mendapatkan perempuan kaya kamu”

That’s so sweet. Dapatkah saya mengingini kalau laki-laki super itu adalah kamu?

Dan kalau saya dibolehkan untuk mendikte Tuhan, Tuhan gak perlu repot-repot cariin saya laki-laki super. Saya hanya perlu Tuhan mengizinkan saya untuk menghabiskan sisa hidup saya sama kamu.

Sungguh.

Tuesday, October 9, 2007

Dapet Salam dari Melly..

Beberapa minggu kebelakang ini hidup saya rasanya lagi gantung berat. Sebuah aspek penting dalam hidup saya rasanya sedang di gantung. Lebai? Mungkin yah. Tapi coba bayangkan bagaimana rasanya kalau ada hal sangat penting dalam hidupmu adalah dalam status ketidak jelasan yang amat sangat, dan entah kapan si kepastian itu akan kamu terima. Pasti rasanya kaya nunggu bisul pecah. Buat yang belum pernah bisulan, saya kasih ilustrasi gimana rasanya menunggu bisul pecah *dan ya, dengan rendah hati saya umumkan bahwa saya pernah bisulan waktu jaman SD dulu aknibat main di tempat yang kurang higienis*. Anyways, sampai mana tadi? Oh ya, menunggu bisul pecah. Jadi kira-kira rasanya adalah seperti memiliki jerawat sebesar biji duren - duren montong lah ya biar ga terlalu horror - yang rasanya panas dan gatal. Sangat gatal, tapi tidak boleh digaruk. Sangat jelek pula penampilannya. Dan yang bisa kamu lakukan hanyalah mengolesinya dengan salep dan menunggunya pecah - entah kapan. And oh did I mention the meriang? Yes, bisul terkadang disertai meriang. Dan saat ini perasaan saya pretty much seperti itu.

Dan apakah yang menyebabkan saya merasa gatal *tapi gak boleh digaruk* disertai sedikit meriang itu? PEKERJAAN. Benar sodarah-sodarah. Bayangkan ya. sementara orang lain udah terima THR dari kapan tau, saya sampai hari ini malah belum gajian. Dan hari ini, hari dimana saya menulis blog ini, adalah tanggal sembilan - hari terakhir saya masuk kerja sebelum libur lebaran. Dan sekarang sudah jam tiga sore. Dan belum ada tanda-tanda kehidupan yang berjudul gajian itu.

Teganya.

Baiklah. Untuk sekedar melemaskan urat syaraf saya akan menyanyikan sebuah lagu dari Melly Goeslaw: "Sampai kapan kau gantuuuunggggg tanggal gajiankuuuu.."

And oh yeah, I'm so gonna leave this office. (Semoga) very soon, menunggu satu kabar (sangat) baik yang (juga) masih menggantung. Doakan saya yah. Sabarrrr :).

Thursday, September 20, 2007

Cengeng.

How can I not love you? What do I tell my heart? When do I not want you here in my arms? How does one walks away from all of the memories? How do I not miss you when you are gone?How can I not love you when you are gone..

Hari Ini Rasanya Sedih Sekali

You see, I'm not that tough. I'm just wearing this phony strength for these past few years. With that phony smile. And that phony words, "I'm perfectly okay". The moment when I'm totally honest to myself is when I cry and share everything with My Rabb. That is the moment when I feel like myself. Naked. Juat me and my tears. Have nothing to hide.

Robbana aatina miladunka rahmatan wa hayyi' lanaa min amrinaa rosyada..

And I believe Allah will always help me to get through everything. Allah always does.

Amin.

Thursday, September 13, 2007

Ayo Asti Kamu Ga Boleh Cengeng!

Saya senang. Kamu bikin saya semangat nunggu besok. Kamu bikin saya senyum-senyum sendiri lagi. Kamu bikin saya ketawa tiap hari. And I love to laugh with you.

Saya minta kopi, dong. Yang banyak buat dibawa ke Jakarta.

J'espere qu'il n y a pas d'autre coeur. Pour moi et pour toi. Aujurd hui. Toujours.

Jalan-jalan ke angkasa, yiuks.

..karena gak ada yang sempurna di dunia ini kecuali sayangku :)..

Tu me manques. 24/7.

.. and in this crazy life, and through this crazy times it's you, it's you, you make me sing. You're every line, you're every words, you're everything..

I love you, stranger.


These are the simple messages I want to write in your comment box in your Friendster profile. But I just can't, rite? No worries, stranger. It doesn't change the way I feel for you *smile*.

Thursday, September 6, 2007

Saya Bersyukur Maka Saya Ada - continued.

Ada dua hal yang ketinggalan saya tulis kemarin.

Saya bersyukr untuk keluarga saya yang selalu percaya bahwa apapun yang saya lakukan di luar sini adalah sesuatu yang baik. Dan saya akan menjaga kepercayaan itu, insyaAllah.

Juga tentunya saya bersyukur untuk teman-teman saya yang bukan hanya mendukung saya ketika saya benar, tapi mengingatkan saya ketika salah.

Alhamdulillah yang tak terhingga.

Wednesday, September 5, 2007

Saya Bersyukur Maka Saya Ada

Hari ini saya merasa sangat bersyukur. Gak ada special occassion, tapi entah mengapa pagi ini saya terbangun dengan perasaan senang - dan bersyukur.

Bersyukur untuk diri saya yang merasa nyaman dengan keadaan fisik saya. Saya tidak pernah merasa cantik. Ini membuat saya selalu menikmati tampil apa adanya. Kalau lagi pengen gembel, ya gembel. Lagi pengen dandan, ya dandan. Ga pernah ada tuntutan, terutama dari diri sendiri, untuk selalu tampil stunning atau untuk selalu terlihat outstanding.

Bersyukur untuk diri saya yang banyak berfikir. Meskipun kadang-kadang saya tampak tidak 'hadir' dan asyik berkelana dalam pikiran saya sendiri, saya tidak menyesalinya. Karena pikiran saya tidak pernah membuahkan sesuatu yang sia-sia. Kalaupun buat orang lain mungkin gak banyak gunanya, tapi seenggaknya berarti sesuatu buat diri saya sendiri.

Bersyukur untuk keadaan keuangan saya yang pas. Bukan pas-pasan, tapi pas. Membuat saya harus cerdas dalam membagi pengeluaran, dan berhati-hati untuk tidak boros. Jadi kalau suatu saat keadaan keuangan saya berlebih, sata tidak akan boros dan terbiasa spend money untuk hal-hal yang berguna saja.

Bersyukur untuk hal-hal kecil *yang saya senang menyebutnya substantial itinerary*, dan hal-hal besar yang Allah kasih buat saya. Sangat bersyukur.

Dan saya bersyukur untuk apa yang sedang saya rasakan saat ini, apapun yang menunggu di depan saya. Tapi saya bersyukur untuk saat ini, untuk perasaan ini.

Alhamdulillah.

Beauty, Behaviour, and of course Brain

Saya baru aja buka profile seseorang di friendster. Bukan seseorang yang istimewa di hati, bukan pula seseorang yang pernah istimewa di hati. Tapi buka profilenya mengingatkan saya ke jaman-jaman kuliah dulu, dan gimana awalnya saya mulai menyadari bahwa saya bukan hanya butuh cowo yang punya beauty dan behaviour, tapi juga yang punya brain *macam miss universe*.

Namanya sebut aja AkNu. Senior saya jaman kuliah dulu. Dia angkatan 99. Saya gak kenal deket sama dia. Gak punya kesempatan buat kenal deket sama dia, lebih tepatnya. Karena saya dan dia eksis di dunia yang berbeda, literally. Saya bersama anak-anak yang hobi nyampah for fun or for the sake of the so-called 'eksistensi', dan dia bersama kelompok yang hobi nyampah karena mereka memang punya tujuan konkret dibalik itu: for the sake of their future *setidaknya itulah yang saya rasakan pada saat itu*.

Niweis, AkNu ini pinter. Semua orang tau dia pinter. Meskipun buat sebagian orang image AkNu adalah anak pinter yang kaku, pendiam, dan punya aura akademisi yang sangat kental *whatever it means -- grin*. Tapi somehow, saya seneng merhatiin si AkNu ini. Saya pernah punya satu kesempatan ngobrol banyak sama dia, pas jaman-jaman saya jadi panitia prakdip. Ternyata dia gak se-kaku itu. Menyenangkan malah, meskipun saya masih kagok ngobrol sama dia. Karena ternyata dia memang beneran pinter *ga pd mode: ON*. Waktu itu saya jadi tim materi yang nyiapain - well - materi yang dibutuhin buat prakdip angkatannya AkNu. And the way he sees things is simply stunning. Semenjak itu, semasa kuliah, saya jadi terobsesi pengen punya pacar yang kaya AkNu. Sekali lagi, bukan terobsesi punya pacar AkNu *karena itu tidak mungkin terjadi, not in a zillion way*, tapi punya pacar yang kaya AkNu. Pinter, cerdas.

Dan lama-lama saya menyadari sesuatu. Bahwa I always fancy smart guy. Temen saya bahkan sempet bilang: "Ti, loe kayanya turn-on sama cowo-cowo pinter ya?". Gyahahahahha. Bisa jadi.

Tuesday, September 4, 2007

Sederhana

Saya cuma ingin jatuh cinta dengan sederhana. Itu saja.

Tuesday, August 28, 2007

What Doesn't Kill Me

They said a bad past experience would make us stronger. Or in more sophisticated sentences: what doesn't kill you will definitely makes you stronger. But what I have in mind right now is, bad past experience makes me scared easily. I'm not saying I'm becoming a coward. But sometimes the pain just remind me on how bad it felt to fall from heights. Maybe I should put it this way: what doesn't kill you will definitely makes you stronger, but not necessarilly make you braver.

Can't I just wake up in the morning, feeling happy, and don't have to worry about this kind of thing anymore?

Friday, August 24, 2007

Man.

Any man can just simply be a man.
As man as they want it to be.
I mean, hey, it's men I'm talking about.
They're just, well, men.

Oh, man..

Monday, August 13, 2007

Simple Together

You've been my golden best friend. Now with post-demise at hand can't go to you for consolation. Cause we're off limits during this transition. This grief overwhelms me. It burns in my stomach and I can't stop bumping into things. I thought we'd be simple together. I thought we'd be happy together. Thought we'd be limitless together. I thought we'd be precious together but I was sadly mistaken. You've been my soulmate and then some. I remembered you the moment I met you. With you I knew god's face was handsome. With you I saw fun and expansion.This loss is numbing me. It pierces my chest and I can't stop dropping everything. I thought we'd be sexy together. Thought we'd be evolving together. I thought we'd have children together. I thought we'd be family together but I was sadly mistaken. If I had a bill for all the philosophies I shared. If I had a penny for all the possibilities I presented. If I had a dime for every hand thrown up in the air, my wealth would render this no less severe. I thought we'd be genius together. I thought we'd be healing together. I thought we'd be growing together. Thought we'd be adventurous together but I was sadly mistaken. Thought we'd be exploring together. Thought we'd be inspired together. I thought we'd be flying together. Thought we'd be on fire together but I was sadly mistaken.
Simple Together. Alanis Morissette.

I'm in the mood of drowning myself in this strange feeling I feel right now, Stranger. But I'm sure we (I) will pass this phase and be perfectly fine.

Sunday, August 12, 2007

Cogito Ergo Sum

Sometimes it's better to keep everything inside and think about it over and over again until you (think) you've through with it. But sometimes to disclose the things seems like a good option. You can make it complicated though it could've been simpler. Or make it easy while it actually is pretty hard to bear. It's just a matter of choice. Nothing is perfectly right, and nothing is absolutely wrong.

And I'll live with it, maybe somehow I'll be over it. This is just life, sit back and enjoy.

Thursday, August 9, 2007

M e n g e r t i ( ? )

What is it with me. Am I some kind of magnet for insensitive jerks or what?

Memang, memang yang Maha Menggenggam Hati Manusia itu Allah. Dan cuma Allah yang bisa mengontrol jalannya hati kita. Dan saya bukan mau menyalahkan takdir. Sama sekali nggak.

Saya cuma nggak paham. Seperti saya tanyakan pada seorang teman: "Kalau belum berani berkomitmen, kenapa berani-beraninya menawarkan harapan?". Terlebih lagi, kalau memang belum yakin sama hati dan pilihan, kenapa berani-beraninya bikin move yang bisa mengganggu stabilitas hati objek penderita? Saya bukan nyalahin perubahan sikap. Saya cuma kesel aja, kenapa nggak dipikir baik-baik sebelum melakukan apapun itu. This is irritating.

Dan lagi-lagi - ujung-ujungnya - kita (saya) harus mengerti. Sekali-sekali, ada nggak yang mau coba ngertiin saya?

Sunday, August 5, 2007

Twenty Four Hours Continues

Hear nothing from you for 24 hours. Are you okay? Are you that busy? Or am I just not that necessary for you?

I’m not curious. I’m just wondering.

Anyways, itu saya tulis beberapa minggu lalu. Baru 24 jam ga ada kabar aja udah kalang kabut. Gimana dengan dua hari, tiga hari, seminggu?

Saya sampai pada satu kesimpulan, I am not that necessary for him. And I’m so not gonna do this to myself again, not anymore.

Thank You.

A good friend is someone who knows what to say when things get ugly.

Dan seorang teman yang sangat baik hati membuat hati saya senang ketika dia bilang,
“It’s gonna be his loss if he let you go”.

Thank you. It really means a lot to me.

Sungguh beruntung pacarmu itu. You really know how to make a girl feel good about herself.

A Little Chat on Friday Afternoon

Suatu hari Jumat saya chat dengan seorang mantan calon adik ipar. Ngobrol ngalor-ngidul tentang ini dan itu. Dan pada akhir obrolan dia bilang,

“Terima kasih buat ngobrol-ngobrolnya, kakak-kuw”

If she said those 10 months ago, it’d feel different. Tapi Jumat itu yang saya rasakan cuma senang karena dia menganggap saya sebagai orang yang lebih dewasa dan bisa diajak berbagi.

Lalu dia bilang lagi,

“Coba kita deketnya dari dulu-dulu, ya”

Saya mengintepretasikan ‘dari dulu-dulu’ sebagai ‘dari jaman saya masih pacaran sama abangnya’.

Heum. Saya tersenyum membacanya. Bukan saya yang nggak mau deket dari dulu-dulu. Tapi keadaan yang memaksa saya untuk sulit dekat pada saat itu (tanpa perlu menunjuk manusia yang bertanggung jawab atas ‘keadaan’ itu). See, enak kan bisa deket sama saya. I bet she really hopes that I’m really her future-sister-in-law. Go blame your brother *grin*.

Ini Bukan Relapse

Yakinkah ku berdiri
Di hampa tanpa tepi
Bolehkan aku mendengarmu

Waktu itu kita masih berteman. Sambil makan the famous orgasmic chocolate lava, kamu perdengarkan lagu ini sama saya. Kamu bilang, “Liriknya bagus seperti puisi”.

Terkubur dalam emosi
Tanpa bisa bersembunyi
Aku dan nafasku merindukanmu

Nggak lama saya baca kalau kamu nggak suka puisi. Padahal dulu saya pernah bikin puisi buat kamu, dan kamu nggak keberatan menaruhnya di halaman depan organizer kamu (yang saya kasih buat kamu sebagai hadiah valentine tahun pertama kita pacaran). Bahkan sampai beberapa bulan setelah kamu bukan lagi pacar sayapun, kamu masih menaruhnya di tempat yang sama. Tapi setelah saya baca kalau kamu ternyata nggak suka puisi, saya gak tau apa puisi itu masih ada atau nggak. Dan saya gak tau apa kamu masih suka lagu ini atau nggak. Saya juga gak tau apa kita masih berteman atau nggak.

Dalam hidupku, kesendirianku

Lalu kita berhenti berteman. Pura-pura nggak kenal. Saya tahu kenapa. Karena pacar kamu begitu cemburu pada saya. Tapi saya nggak ngerti kenapa pacar kamu harus sebegitu cemburunya pada saya. Dan itu bikin saya begitu benci sama kamu.

Teringat ku teringat
Pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri
Ku lakukan sepenuh hati

Sekarang saya udah ga benci lagi sama kamu. Kadang-kadang saya kangen sama keakraban kita. Jangan salah, saya bukannya pengen jadi pacar kamu lagi. Tapi kita pernah amat mengenal satu sama lain. Rasanya aneh aja gak bertegur sapa dengan orang yang pernah sangat dekat dengan hidup saya. Well, saya rasa ini buat kebaikan kita (semua), ya?

Peduli ku peduli
Siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tak ada arti
Jika kaulah sandaran hati

Saya nggak tau kamu masih suka lagu ini atau nggak. Saya juga gak tau apakah kamu sungguh-sungguh gak suka puisi, atau waktu itu kamu cuma pura-pura nggak suka. Tapi saya tahu satu hal, meskipun sekarang kita nggak saling bicara lagi, kamu nggak bisa nggak saya anggap sebagai teman saya.

Friday, July 27, 2007

The Little Things that I Miss

(In randomize order, the subject 'he' may vary. All in past tense)

- A motorcycle ride in the afternoon, with my arms around him.
- The way he played hiss bass to impress me, and pretend that he didn't know that I was watching.
- One afternoon after school when he asked me, "Saya boleh telpon kamu?", with -oh- that million dollar smile.
- When he insisted to come to help me with a minor technical computer thing, while he actually can just told me what to do by phone.
- When he looked at me like I'm the pretiest girl in the room.
- When he looked at me like I mean the world to him.
- The way he asked me to the prom.
- The way he kissed me on the cheek after the prom.
- The way he looked at me and tried to say 'hi' from behind the car.
- The way he looked at me after a few laps of running at Sabuga.
- When he asked, "Saya boleh cium kamu nggak?"
- When he insisted to kiss me.
- When he put his head on my shoulder and cried silently. And then I ran my fingers through his hair and said, "Sabar, ya".
- The way he looked at me when he said, "You're the one I need".
- The way they held me in their arms.
- The truth in their eyes.
- The way he kissed me when I cried.
- When he said, "Kamu nikah sama saya, ya. Kamu harus mau jadi istri saya".

After all, I'm just missing the feeling of being special.

Thursday, July 26, 2007

Jealousy.

Saya cemburu pada sebuah masa lalu yang nggak saya kenal. Betapa seorang perempuan pernah begitu istimewa buat dia. Pernah bikin dia jatuh cinta, dan bikin dia patah hati.

Saya nggak ngerti kenapa saya harus cemburu. Saya bahkan belum berani bilang kalau saya jatuh cinta sama dia.

Mungkin saya cemburu bukan karena hati saya sudah terlanjur memilih. Bukan juga karena saya sangat takut kehilangan.

Saya cuma cemburu karena sudah lama saya tidak merasa diistimewakan oleh seseorang yang istimewa buat saya. Kenapa rasanya jatuh cinta jadi satu hal yang sangat sulit dan sangat menakutkan ya?

Darn. I guess I'm in one of those low moments of my life right now.

The Thing that Makes Me Feel Sexy

I feel sexy today because I wear my new pair of VNC. Meskipun belum gajian harus tetap senang. And I feel happy because I look really good in those shoes.

Lupakan financial platform yang berbunyi: sepatu seharga 200ribu itu ga murah (untuk sementara).

Wednesday, July 25, 2007

Sibuk: The Magic Word.

Kalau selama ini saya mengenal 'please' sebagai the magic word yang bisa mengabulkan hampir semua keinginan kita, baru-baru ini saya menyadari kalau ada satu lagi kata yang unsur magisnya tak kalah kuat dengan kata 'please'. SIBUK.

Lima huruf dalam bahasa Indonesia. Sederhana dan sangat familiar. Tapi sangat ampuh untuk mengusir gangguan yang tidak diinginkan dalam hidup kita. Seenggaknya untuk sementara.

Dan saya merasa sangat berkuasa ketika saya berhasil mengucapkan kalimat ini dengan mantap: "Maaf, saya sedang sibuk".

Tapi saya juga gak boleh lupa untuk berhati-hati ketika mengucapkan kata 'sibuk'. Karena orang lain bisa jadi gak enak ati kalau cara ngucapinnya ga bener.

Sebenernya saya mau nulis apa sih? Huhuh. Maklum lagi agak sibuk, nih. Jadi gak konsen.

Dapet salam dari sibuk.

Jadi...?

...
Adakah ku salah duga menilai sikapmu yang indah padaku?
Mungkin saja aku yang salah mengerti
Mungkin hanya aku yang banyak berharap
Namun sungguh tak ada cinta yang lain
Dengarlah inginku ini..
Mungkin saja aku yang salah mengerti
Mungkin hanya ku tak sabar menanti
Tapi pasti tak ada cinta yang lain
Dengarkan pintaku ini,
..jadi gimana?

with all due respect to yovie widianto

Catatan Akhir Bulan

Kere.

Ketika tanggal 25 orang mulai menikmati hasil keringat mereka selama sebulan kebelakang, saya justru harus makin hati-hati dengan pengeluaran saya.

Dan hanya bisa harap-harap cemas. Apakah besok matahari akan bersinar lebih cerah dan angin akan berhembus lebih sepoi-sepoi? Atau baru akan ada kehidupan lagi setelah tanggal satu?

Hanya Tuhan yang tau.

Rollercoaster of Feelings

Saya kenal laki-laki ini beberapa bulan lalu. Dikenalkan oleh seorang teman dekat. Tentu dikenalkan dalam rangka untuk dijodohkan. Sebagai catatan, saya selalu pesimis dengan urusan comblang-mencomblangi. Bukan apatis, tapi saya cuma berfikir bahwa urusan perasaan itu gak bisa diatur-atur. Apalagi buat saya yang seorang chemistry believer. Perjodohan itu hanya akan sukses kalau dari awal bertemu sudah ada chemistry.

Dan dalam perjodohan kali ini, seperti biasa, dari awal saya sudah berfikir "Okay, this is gonna be another lame matchmaking". Tapi laki-laki ini somehow berhasil mematahkan pemikiran saya itu. It's been fun.

For quite a while.

Setelah berjalan beberapa saat, dengan perhatian yang lumayan overwhelming dari si lelaki ini, tiba-tiba semuanya jadi datar lagi. Ga sms-an, ga telponan. Sekalinya telpon dia kedengeran kurang bersemangat. Kata teman saya, dia sibuk. Ya, dia memang lagi sangat-sangat-sangat sibuk. I am very aware of that. Tapi rasanya aneh aja. Ada yang lain. And somehow I feel this familiar feeling inside my heart. The feeling of having the hope sliping away.

Did I made the wrong move? Am I being too pushy? Did he met someone else? Or am I just being over analyse?

Jujur, saya cape. Saya cuma pengen merasa istimewa. Istimewa, dan bukan sekedar prospective. Waktu beberapa hari lalu teman baik saya bilang bahwa hal-hal seperti ini bikin self-esteem menurun, saya berusaha menyangkal. Tapi memang hal itu undeniable.

Saya sempat merasa cukup lega ketika beberapa hari lalu si lelaki menelpon saya, meskipun untuk satu urusan yang 'dia banget'. Dan ketika kemarin dia menyapa saya lewat Y!M, meskipun saya keburu sign-off. But that was then. Hari ini, saya nggak selega itu.

Dibalik kelihaian saya menyembunyikan emosi, saya cuma perempuan biasa. Dengan perasaan-perasaan yang biasa dirasakan perempuan biasa lainnya.

Saya ingin menulis semua yang saya rasakan saat ini. Tapi lalu semuanya ternyata terangkum cukup dalam satu kata saja: bingung.